Fashion

Unta Tua dan Amplop Terakhir Seorang Pemimpin Umat

Di sudut pasar Madinah, pagi itu masih basah oleh embun.

Seorang lelaki paruh baya memanggul gulungan kain di pundaknya, melangkah biasa saja seperti seribu hari sebelumnya.

Tak ada yang menoleh istimewa padanya, karena mereka mengenalnya sebagai pedagang kain, seperti biasanya.

Tapi Umar bin Khattab, yang kebetulan lewat, hampir copot jantungnya.

“Ya Allah… ?!”

Umar menarik kendali untanya, melompat turun sebelum hewan itu benar-benar berhenti, ia menatap lelaki itu dengan mata membelalak.

Lelaki yang sama yang kemarin sore seluruh umat bersumpah setia di hadapannya.

Lelaki yang sekarang di pundaknya ada segulung kain kasar.

“Hendak ke mana, engkau? Dengan kain ini?” suara Umar bergetar antara heran dan cemas.

Lelaki yang ditanya, Abu Bakar menoleh, tersenyum. Senyum yang sama yang selalu dia punya sejak pertama mereka bersahabat. Senyum yang tidak berubah meski kemarin beban umat diletakkan di pundaknya.

“Ke pasar, lah,” jawabnya enteng. “Anak istriku butuh makan. Aku harus dagang.”

Umar menarik napas panjang, ia meraih lengan Abu Bakar, menggenggamnya erat.

“Engkau… Engkau sekarang pemimpin umat. Bukan pedagang kain. Kalau engkau sibuk di pasar, siapa yang mengurus umat? Siapa yang mengurus kami?”

Abu Bakar terdiam. Matanya menerawang sebentar ke arah rumah kecilnya yang hanya beberapa langkah dari masjid.

“Tapi anak istriku butuh makan, Umar.”

“Kalau begitu,” Umar menarik napas, “kita tetapkan gaji untuk Khalifah. Dari Baitul Mal. Agar engkau bisa fokus mengurus rakyat.”

Abu Bakar menggeleng pelan. Tangannya terangkat, hendak menolak.

Tapi Umar sudah keburu memanggil beberapa sahabat lain untuk bermusyawarah.

Malam harinya, para sahabat berkumpul di masjid.

Mereka berdebat hangat. Berapa gaji yang pantas untuk seorang pemimpin?

Mereka melihat ke sekeliling. Melihat bagaimana rakyat Madinah hidup.

Melihat berapa banyak roti gandum yang bisa dibeli dengan satu dirham. Melihat harga baju di pasar.

Lalu mereka sepakat.

Tidak ada angka fantastis.

Tidak ada tunjangan istana. Tidak ada dana operasional.

Hanya cukup untuk kebutuhan pokok rata-rata rakyat jelata. Sekadar makan sederhana dan sehelai baju setahun.

Abu Bakar menerima keputusan itu dengan wajah muram.

Di dalam hatinya, dia merasa ini tetap terlalu besar.

Tapi para sahabat bersikeras, ini bukan hadiah, ini hak.

Ini upah untuk pekerjaannya.

Dia mencatat setiap diterima.

Semuanya dibukukan dalam hatinya, karena dia tahu: suatu saat, semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Dua setengah tahun berlalu.

Waktu terasa begitu cepat bagi yang sibuk, begitu lambat bagi yang sakit. Dan Abu Bakar sekarang terbaring di pembaringan terakhirnya. Napasnya mulai tersengal. Kulitnya pucat. Tapi matanya, matanya masih tajam seperti elang yang mengawasi.

“Wahai Aisyah,” bisiknya.

Putrinya itu langsung mendekat. Wajahnya basah, tapi dia berusaha tegar. Tangannya menggenggam jemari ayahnya yang mulai dingin.

“Coba kamu periksa,” Abu Bakar berhenti, menarik napas yang berat, “apa saja harta kita yang bertambah sejak aku menjabat jadi Khalifah?”

Aisyah mengerjap. “Ayah… Ayah sedang sakit.”

“Periksa sekarang! Jangan sampai ada yang terlewat. Satu butir gandum pun.”

Aisyah tahu, tidak ada gunanya membantah. Dia berdiri, berjalan ke sudut-sudut rumah yang hanya terdiri dari beberapa ruangan sederhana. Dia memeriksa lemari. Memeriksa dapur. Memeriksa kandang kecil di belakang.

Lalu dia kembali.

“Bagaimana?” Abu Bakar menatapnya tajam.

Aisyah menunduk. “Unta tua yang biasa kita pakai ambil air. Wadah susu dari kayu yang kita pakai setiap hari. Dan…” suaranya tersendat, “baju yang Ayah pakai sekarang.”

Abu Bakar terdiam.

Itu saja. Tiga benda. Itulah aset ‘Istana’ yang dia kumpulkan selama memimpin umat sejagat.

Matanya tiba-tiba basah. Air mata mengalir di pelipisnya yang berkerut.

“Cuma ini?” tanyanya, suaranya pecah.

“Hanya ini, Ayah.”

Abu Bakar menutup mata sejenak. Dadanya naik turun.

Lalu dia membuka mata lagi, dengan tatapan yang tiba-tiba berapi-api, api seorang mukmin yang sedang menghitung bekal akhiratnya.

“Ambil semua ini. Serahkan kepada Umar bin Khattab. Sekarang juga.”

Aisyah tertegun. “Tapi Ayah… “

“Ini fasilitas negara,” potong Abu Bakar tegas. “Aku tak berhak membawanya mati. Unta itu milik umat, untuk mengangkut air mereka. Wadah itu juga. Baju ini… biar aku pakai dulu sampai ajal menjemput, tapi setelah itu, serahkan. Aku tak mau menghadap Allah dengan pinjaman yang belum dikembalikan.”

Aisyah mengangguk, meski tangannya gemetar.

Tapi Abu Bakar belum selesai.

“Tunggu!” katanya lagi, “ada satu lagi.”

Aisyah menunggu.

“Gajiku. Hitung berapa total gaji yang pernah aku terima dari kas negara selama 2,5 tahun ini.”

Aisyah hampir protes. Tapi dia tahu, ini bukan waktunya, ia mengambil daun dan tinta. Mulai menghitung.

Angka-angka kecil yang dikumpulkan dari hari ke hari.

Cukup untuk makan sederhana.

Cukup untuk satu baju setahun. Tidak lebih.

Setelah selesai, dia menyebutkan angkanya.

Abu Bakar mengangguk pelan. Lalu jarinya yang lemah menunjuk ke arah jendela.

Ke arah kebun kurma di kejauhan.

Satu-satunya harta pribadi yang dia punya sebelum menjabat.

“Jual kebun itu,” katanya.

Aisyah terkesiap. “Tapi Ayah… itu warisan keluarga! Itu satu-satunya.”

“Jual!” potong Abu Bakar, suaranya lembut tapi tak terbantahkan.

“Gunakan uangnya untuk mengembalikan seluruh gaji yang pernah aku makan.”

Aisyah menangis sekarang. “Ayah… itu halal. Para sahabat yang menetapkan. Itu hak Ayah.”

Abu Bakar menghela napas panjang.

Tangannya yang dingin meraih jemari putrinya.

“Aisyah, anakku,” bisiknya, “aku tahu itu halal. Tapi aku malu. Malu dibayar untuk melayani umat. Aku ingin berkhidmat dengan ikhlas, hanya untuk Allah. Aku tidak mau menghadap-Nya dengan membawa satu sen pun daging yang tumbuh dari uang negara. Meskipun halal.”

Aisyah menunduk dalam-dalam. Bahunya bergetar.

“Lakukan, nak. Agar ayahmu bisa pergi dengan tenang.”


Tiga hari kemudian, Abu Bakar wafat.

Jenazahnya baru saja dikebumikan ketika seorang utusan Aisyah mengetuk pintu Umar bin Khattab, ia membawa: seekor unta tua, sebuah wadah susu dari kayu, sehelai baju lusuh, dan sekantong uang hasil penjualan kebun kurma.

“Apa ini?” Umar bertanya, alisnya berkerut.

Utusan itu menyampaikan pesan terakhir Abu Bakar.

Kata demi kata. Tentang pengembalian fasilitas negara.

Tentang pengembalian seluruh gaji.

Tentang keinginan untuk pergi dengan tangan bersih.

Umar terdiam.

Bungkusan itu dia terima dengan tangan gemetar. Dia memeluknya. Lalu, tiba-tiba, bahunya ambruk.

Umar bin Khattab, singa padang pasir, penakluk kekaisaran, lelaki yang konon setan pun lari darinya, menangis. Menangis meraung-raung seperti anak kecil yang kehilangan ayahnya. Air matanya membasahi jenggot, membasahi bungkusan kain lusuh di pelukannya.

“Wahai Abu Bakar,” suaranya parau, tercekik isak, “sungguh engkau telah membuat lelah orang-orang setelahmu.”

Dia memeluk unta tua itu. Memeluk wadah susu itu. Memeluk baju lusuh itu.

“Engkau menetapkan standar integritas,” bisiknya di sela tangis, “yang mustahil kami kejar.”

Malam itu, Madinah sunyi. Tapi di keheningan itu, seorang lelaki perkasa duduk sendirian di sudut masjid, memeluk warisan seorang sahabat yang pergi dengan tangan kosong, meninggalkan beban moral yang lebih berat dari seluruh gunung di bumi.


Unta tua itu akhirnya kembali ke Baitul Mal.

Tapi jejak Abu Bakar, jejak seorang pemimpin yang merasa malu dibayar untuk melayani, tetap membeku di udara Madinah, menjadi pertanyaan bagi setiap yang datang setelahnya:

Siapa bilang pemimpin harus kaya?

Siapa bilang jabatan adalah rezeki?

Atau jangan-jangan, kita yang salah memahami arti amanah sebagai rezeki”?

Copas dari link YABSIRA


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *