Asa Hilang Mimpi yang Terbuang 22……
“Tanpa basa-basi lagi sate yang ada didepan lansung disantap Zein dengan lahap, sementara Amin dan Husnun asyik menghirup sop kambing yang masih panas.
“Bu’…tambah nasinya “..ujar Zein dengan mulut yang masih penuh nasi bercampur sate, “sabar Zein..” ujar Amin.
“Lapar sekali ana Min, jadi tidak ada toleransi lagi, yang ada harus segera dinikmati! ” kata Zein, Amin senyum-senyum saja melihat ulah sahabatnya itu yang memang dalam kondisi lapar sebagimana yang ia dan Husnun juga rasakan.
“Bu’… Nasinya tambah lagi ya? ” pinta Amin .
“Mas ini..?… nambah juga nggak? Tanya ibu pedagang yang sudah cukup tua, namun masih berjualan ditengah malam, dimana wanita seusianya sudah harus beristirahat.
“Iya… bu’!.. nambah juga ” jawab Husnun,
“Lho…ente lapar juga to..Nun?…” gurau Zein pada sahabatnya itu
“Sebenarnya ndak Zen…., tapi ana nemeni ente! Kalau ana sudah… terus ente belum? kan nggak sopan he.he.he..” ucap Husnun sambil tertawa.
Setelah menyelesaikan makan mereka bertiga duduk santai sambil minum segelas teh hangat yang sudah mulai dingin, pandangan mata Amin menerawang kearah luar warung, dilihatnya canda tawa para pembeli diwarung sebelah mereka, terlintas dipikirannya betapa sulitnya mencari napkah bagi orang-orang yang sudah lanjut usia seperti pemilik warung makan disekitar perkemahan, sementara disekitarnya terhampar lahan yang begitu subur nan luas, tapi lahan itu sudah dibeli orang-orang kaya dari kota sementara mereka tersingkir dari tanah mereka sendiri. Setelah membayar makanan Mereka bertiga kembali kemobil untuk melanjutkan tidur.
“Jam berapa Min? ” tanya Husnun
“Setengah dua, kenapa Nun ? mau sholat tahajjud? ” jawab Amin sambil bertanya
“Lhoooo…berarti kita tadi makan sahur dong!…” Celetuk Zein
“Yo..nggak Cuma ana pengen tau aja Min! ” Jawab Husnun
“Apa masih bisa tidur di udara sedingin ini Min?”
Entah lah…Biasany kalau perut kenyang bawaannya mau tidur , tapi ini kok malah nggak? ” Jawab Amin
“Ya..kalau tidak bisa tidur kita ngamen aja!.. lumayan buat nambah pendapatan untuk beli sate lagi besok….he.he.he. ” seloroh Zein dengan santainya
Sesampai didekat mobil Amin mengarahkan pandanganya kedalam mobil, dan dilihatnya didalm mobil ternyata sudah penuh dengan orang yang sudah terlebih dahulu tidur. “Kenapa Min?” tanya Zein, “sudah penuh Zein..! lho siapa yang tidur? Nggak tahu karena mukanya ditutupi pakai sarung ama selimut”.
“Jadi kita tidur dimana ? ” Tanya Husnun dengan wajah sedikit bingung
“Kita kembali ke tempat api unggun dinyalakan tadi saja!..” Ujar Zein
“Oke…, kita jalan ” jawab Amin
Mereka kembali berjalan menaiki bukit kecil dimana kemah mereka ditegakkan, sesampai diatas, Zein berkata: “wah lapar lagi kalau begini caranya?”.
“Kenapa Zein? ” Tanya Amin
“Yah…naik gunung begini? kan banyak mengeluarkan energi Min?
“Nggak apa-apa Zein, hitung-hitung menghilangkan kolestrol dibadan ente..” tambah Husnun dengan napas dan suara ngos-ngosan.
Setelah mendekati tenda Amin melihat ada orang yang sedang duduk dihadapan api unggun yang sudah mulai mengecil, mereka pun mendekat, tiba-tiba terdengar suara,: darimana saja kok baru keliatan? Apa tidur dimobil? Amin memperhatikan lebih dekat ternyata suara itu adalah suara Alwie, “Tadinya tidur dimobil, waktu kita tinggal sebentar sudah diisi orang lain, ya..sudah kita kesini..” jawab Amin.
“Memang ente tinggal kemana?” Tanya Alwie
“Cari makan wie! wong kita kelaparan..” jawab Zein
“Memangnya ada warung yang jualan tengah malam begini?
“Ada wie…, dibawah sana, warung sate sama sop kambing, ” Jelas Amin
“Wah kok tidak ngajak-ngajak…? Saya dari tadi mau cari makan tapi dimana?… gerutu Alwie. “Wah bagaimana to wie ente ini? Bukannya tadi ente yang bagian dapur? “Iya saya bagian dapur!, tapi saya kan Cuma bagian bikin sambal Zein!
Husnun dan Amin tertawa mendengar ungkapan Alwie, “tapi kalau ente mau makan nanti kita temani wie ..” Hibur Amin pada Alwie
“Iya wie…hitung-hitung ente makan sahur, ” tambah Zein
“Lho memangnya sudah jam berapa sekarang?, sudah jam dua! ” jawab Amin
“Bagaimana masih mau ke warung? ” Tanya Zein pada Alwie
“Sudah nanti saja, ” jawab Alwie sambil tersenyum
“Nun tolong ambilkan kayu…” Pinta Amin
“Iya betul!… kita nyalakan lagi saja api unggunnya, ” Ucap Zein
Mereka pun sibuk menyalakan kembali api unggun sebagi penerang dan juga untuk menghangatkan tubuh mereka dari dinginya udara malam serta embun yang mulai berjatuhan. “Hayo Zein nyanyi lagi! ” Pinta Husnun
Zein hanya tersenyum sambil membetulkan susunan kayu bakar yang ada didepannya agar apinya cepat menyala.

